Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (3)
February 9, 2010Seorang anak tampak tertidur di atas sepeda dengan topangan tangan ibunya. Tubuhnya bertumpu pada sebuah dudukan yang khusus dipasang, sementara sang ibu menuntun sepeda tetap berjalan.
Pemandangan seperti ini kerap dijumpai saat melihat seorang pria atau wanita membawa serta anaknya bersepeda. Sebuah pemandangan menarik –yang buat saya- memberikan beberapa makna, kedekatan orangtua dan anak atau mungkin cara orangtua membiasakan anaknya merasakan bagaimana nikmatnya bersepeda.
Membawa anak bersepeda merupakan hal yang lazim bagi warga Kopenhagen. Bahkan, ada satu jenis sepeda yang dirancang khusus untuk memudahkan orang tua membawa anaknya bersepeda, terutama yang berusia di bawah lima tahun.
Christiania Bike, itu nama sepedanya. Jenis sepeda ini menempatkan sebuah bak di bagian depan dan sepeda di bagian belakang. Layaknya becak. Seringnya, para ayah atau ibu meletakkan keranjang berikut bayinya di dalam bak itu.Sepeda Christiania ini diproduksi oleh salah satu komunitas di Kopenhagen yang menamakan dirinya “Christiania”. Bisa dibilang, sepeda ini laris manis.
Bahkan, jika menikmati suasana hari libur di pusat-pusat kota, kita akan banyak menjumpai para orangtua yang membawa anaknya menggunakan sepeda tersebut. Menariknya lagi, tak jarang pula dijumpai orangtua yang meninggalkan anaknya di bak sepeda, sementara mereka memasuki toko untuk membeli sesuatu. Tingkat kepercayaan antarsesama warga, konon, memang cukup tinggi di kota ini.
Selain Christiania, jenis sepeda lain yang digunakan pengayuh sepeda di Kopenhagen cukup beragam. Ada yang mirip sepeda onthel di Indonesia, tetapi yang paling banyak dijumpai adalah jenis sport bike. Toko-toko yang menjual sepeda juga lumayan “bertabur”. Sayangnya, saat menelusuri toko-toko pada hari Minggu, seluruh toko tak tutup.
Soal merek, tanpa bermaksud promosi, ada beberapa merek yang diminati seperti Kildemoes, Centurion, dan Raleigh. Berbagai merek ini biasanya menyediakan untuk kategori sepeda pria, wanita dan anak-anak.
Lelang Sepeda
Harga sepeda baru di Kopenhagen berada pada kisaran 3.000-6.000 kroner atau setara dengan Rp 6 juta-Rp 12 juta. Tak tahu juga, apakah kisaran harga ini tergolong tinggi bagi warga Kopenhagen. Yang jelas, ada momen dimana para penggowes bisa mendapatkan sepeda dengan “harga miring”, yaitu mengikuti lelang yang diadakan oleh pihak kepolisian setempat.
Dari berbagai informasi yang saya peroleh, lelang ini dilakukan polisi terhadap sepeda-sepeda “tak bertuan” yang ditinggalkan di parkiran selama kurang lebih 3 bulan. Sebelumnya, diadakan pengumuman barang hilang. Jika tak ada respon, maka dalam waktu tersebut, polisi berhak melelangnya.
Harganya sepeda lelang lumayan murah, antara 500 hingga 1.500 kroner atau Rp1 juta-Rp 3 juta. Dengan harga ini, sangat beruntung jika mendapatkan sepeda dalam kondisi yang masih bagus.
Menariknya, untuk segala hal yang berkaitan dengan pelelangan ini, dibuat sebuah website khusus (www.topauktioner.dk). Di situs ini segala informasi lelang bisa didapatkan. Biasanya, jadwal pelelangan sudah ditetapkan oleh pihak kepolisian, dua minggu sekali. Lokasi pelelangan ada di kawasan Vanlose, Denmark.
Satu minggu sebelum hari pelelangan, informasi mengenai merek, jenis dan nomor sepeda yang akan dilelang sudah diumumkan. Nah, mereka yang tertarik dan datang ke acara pelelangan, biasanya sudah mengantongi informasi tentang sepeda yang akan diminati.
Selain mengikuti lelang, ada satu cara lain yang biasa dimanfaatkan untuk mendapatkan sepeda dengan harga yang jauh lebih murah. Sebuah website (www.dba.dk), menjadi alternatif lain untuk berburu sepeda bekas.
Harganya, relatif tak jauh berbeda dengan harga sepeda yang ditawarkan pada acara pelelangan, termasuk untuk penginformasian merek dan jenis sepeda. Jenis sepeda yang dimaksud adalah sepeda untuk pria, wanita atau anak-anak.
Bisa dibilang, informasi seputar sepeda sudah sangat lengkap dibangun di Denmark. Salah satunya dengan pemanfaatan dunia maya. Maka, jika suatu saat (siapa tahu) harus menetap di Kopenhagen, jangan bingung untuk berburu sepeda disana!
Di Balik Kisah Sukses
Seperti diungkapkan di awal cerita, tak mudah mengubah kultur berkendara masyarakat. Tetapi, Kopenhagen berhasil melakukannya, dari kota padat kendaraan bermotor pada 40 tahun silam, menjadi kota “hijau” dengan mayoritas penduduknya menggunakan sarana transportasi umum dan sepeda sebagai moda utama.
Selain kencangnya kampanye bersepeda, salah satu kunci suksesnya, mungkin bisa dibilang kebijakan pemerintah yang mau tak mau “memaksa” warganya berpikir dua kali untuk memiliki kendaraan pribadi. Beberapa warga Kopenhagen mengatakan, untuk membeli sebuah mobil, rasanya mereka harus berpikir ribuan kali. Mengapa?
“Harga mobil disini tinggi sekali. Dan untuk membelinya bukan sesuatu yang mudah. Harga mahal, syarat-syarat yang harus dipenuhi juga lumayan banyak,” kata Andersen, seorang warga Kopenhagen.
Tak hanya harga tinggi, menurut dia, pajak yang harus dibayarkan setiap tahunnya juga relatif membuat “kepala pusing”. “Kalau dihitung-hitung, lebih murah naik bis atau kereta api,” ujar Andersen, yang sehari-harinya menggunakan sepeda dan kereta api menuju tempat bekerja.
Kisah tingginya biaya jika memiliki kendaraan pribadi tak berhenti sampai disitu. Karen, salah satu mahasiswi, mengisahkan, untuk mendapatkan lisensi berkendara (SIM), mereka juga harus merogoh kocek lumayan dalam.
Sebuah SIM dihargai sekitar 10.000 kroner (setara dengan Rp 20 juta). Hal ini juga diamini warga lainnya, Hans, yang saat mendapatkan SIM harus membayar 1.500 Euro atau sekitar Rp 21 juta.
Melihat jejak perjalanan Kopenhagen dengan kisah persepedaannya, rasanya tak ada kalimat “too good to be true”…
News No Comments
