<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>British Council Indonesia - Official Blog</title>
	<link>http://britishcouncil.or.id/blog</link>
	<description>This is the official British Council Indonesia corporate blog</description>
	<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:50:11 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (3)</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-3/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-3/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak tampak tertidur di atas sepeda dengan topangan  tangan ibunya. Tubuhnya bertumpu pada sebuah dudukan yang khusus dipasang, sementara sang ibu menuntun sepeda tetap berjalan.
Pemandangan seperti ini kerap dijumpai saat melihat seorang pria atau wanita membawa serta anaknya bersepeda. Sebuah pemandangan menarik –yang buat saya- memberikan beberapa makna, kedekatan orangtua dan anak atau mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang anak tampak tertidur di atas sepeda dengan topangan  tangan ibunya. Tubuhnya bertumpu pada sebuah dudukan yang khusus dipasang, sementara sang ibu menuntun sepeda tetap berjalan.</p>
<p>Pemandangan seperti ini kerap dijumpai saat melihat seorang pria atau wanita membawa serta anaknya bersepeda. Sebuah pemandangan menarik –yang buat saya- memberikan beberapa makna, kedekatan orangtua dan anak atau mungkin cara orangtua membiasakan anaknya merasakan bagaimana nikmatnya bersepeda.</p>
<p>Membawa anak bersepeda merupakan hal yang lazim bagi warga Kopenhagen. Bahkan, ada satu jenis sepeda yang dirancang khusus untuk memudahkan orang tua membawa anaknya bersepeda, terutama yang berusia di bawah lima tahun.</p>
<p>Christiania Bike, itu nama sepedanya. Jenis sepeda ini menempatkan sebuah bak di bagian depan dan sepeda di bagian belakang. Layaknya becak. Seringnya, para ayah atau ibu meletakkan keranjang berikut bayinya di dalam bak itu.Sepeda Christiania ini diproduksi oleh salah satu komunitas di Kopenhagen yang menamakan dirinya “Christiania”. Bisa dibilang, sepeda ini laris manis.</p>
<p>Bahkan, jika menikmati suasana hari libur di pusat-pusat kota, kita akan banyak menjumpai para orangtua yang membawa anaknya menggunakan sepeda tersebut. Menariknya lagi, tak jarang pula dijumpai orangtua yang meninggalkan anaknya di bak sepeda, sementara mereka memasuki toko untuk membeli sesuatu. Tingkat kepercayaan antarsesama warga, konon, memang cukup tinggi di kota ini.</p>
<p>Selain Christiania, jenis sepeda lain yang digunakan pengayuh sepeda di Kopenhagen cukup beragam. Ada yang mirip sepeda onthel di Indonesia, tetapi yang paling banyak dijumpai adalah jenis sport bike. Toko-toko yang menjual sepeda juga lumayan “bertabur”. Sayangnya, saat menelusuri toko-toko pada hari Minggu, seluruh toko tak tutup.</p>
<p>Soal merek, tanpa bermaksud promosi, ada beberapa merek yang diminati seperti Kildemoes, Centurion, dan Raleigh. Berbagai merek ini biasanya menyediakan untuk kategori sepeda pria, wanita dan anak-anak.<br />
Lelang Sepeda</p>
<p>Harga sepeda baru di Kopenhagen berada pada kisaran 3.000-6.000 kroner atau setara dengan Rp 6 juta-Rp 12 juta. Tak tahu juga, apakah kisaran harga ini tergolong tinggi bagi warga Kopenhagen. Yang jelas, ada momen dimana para penggowes bisa mendapatkan sepeda dengan “harga miring”, yaitu mengikuti lelang yang diadakan oleh pihak kepolisian setempat.</p>
<p>Dari berbagai informasi yang saya peroleh, lelang ini dilakukan polisi terhadap sepeda-sepeda “tak bertuan” yang ditinggalkan di parkiran selama kurang lebih 3 bulan. Sebelumnya, diadakan pengumuman barang hilang. Jika tak ada respon, maka dalam waktu tersebut, polisi berhak melelangnya.</p>
<p>Harganya sepeda lelang lumayan murah, antara 500 hingga 1.500 kroner atau Rp1 juta-Rp 3 juta. Dengan harga ini, sangat beruntung jika mendapatkan sepeda dalam kondisi yang masih bagus.</p>
<p>Menariknya, untuk segala hal yang berkaitan dengan pelelangan ini, dibuat sebuah website khusus  (www.topauktioner.dk). Di situs ini segala informasi lelang bisa didapatkan. Biasanya, jadwal pelelangan sudah ditetapkan oleh pihak kepolisian, dua minggu sekali. Lokasi pelelangan ada di kawasan Vanlose, Denmark.</p>
<p>Satu minggu sebelum hari pelelangan, informasi mengenai merek, jenis dan nomor sepeda yang akan dilelang sudah diumumkan. Nah, mereka yang tertarik dan datang ke acara pelelangan, biasanya sudah mengantongi informasi tentang sepeda yang akan diminati.</p>
<p>Selain mengikuti lelang, ada satu cara lain yang biasa dimanfaatkan untuk mendapatkan sepeda dengan harga yang jauh lebih murah. Sebuah website (www.dba.dk), menjadi alternatif lain untuk berburu sepeda bekas.</p>
<p>Harganya, relatif tak jauh berbeda dengan harga sepeda yang ditawarkan pada acara pelelangan, termasuk untuk penginformasian merek dan jenis sepeda. Jenis sepeda yang dimaksud adalah sepeda untuk pria, wanita atau anak-anak.</p>
<p>Bisa dibilang, informasi seputar sepeda sudah sangat lengkap dibangun di Denmark. Salah satunya dengan pemanfaatan dunia maya. Maka, jika suatu saat (siapa tahu) harus menetap di Kopenhagen, jangan bingung untuk berburu sepeda disana!</p>
<p>Di Balik Kisah Sukses</p>
<p>Seperti diungkapkan di awal cerita, tak mudah mengubah kultur berkendara masyarakat. Tetapi, Kopenhagen berhasil melakukannya, dari kota padat kendaraan bermotor pada 40 tahun silam, menjadi kota “hijau” dengan mayoritas penduduknya menggunakan sarana transportasi umum dan sepeda sebagai moda utama.</p>
<p>Selain kencangnya kampanye bersepeda, salah satu kunci suksesnya, mungkin bisa dibilang kebijakan pemerintah yang mau tak mau “memaksa” warganya berpikir dua kali untuk memiliki kendaraan pribadi. Beberapa warga Kopenhagen mengatakan, untuk membeli sebuah mobil, rasanya mereka harus berpikir ribuan kali. Mengapa?</p>
<p>“Harga mobil disini tinggi sekali. Dan untuk membelinya bukan sesuatu yang mudah. Harga mahal, syarat-syarat yang harus dipenuhi juga lumayan banyak,” kata Andersen, seorang warga Kopenhagen.</p>
<p>Tak hanya harga tinggi, menurut dia, pajak yang harus dibayarkan setiap tahunnya juga relatif membuat “kepala pusing”. “Kalau dihitung-hitung, lebih murah naik bis atau kereta api,” ujar Andersen, yang sehari-harinya menggunakan sepeda dan kereta api menuju tempat bekerja.</p>
<p>Kisah tingginya biaya jika memiliki kendaraan pribadi tak berhenti sampai disitu. Karen, salah satu mahasiswi, mengisahkan, untuk mendapatkan lisensi berkendara (SIM), mereka juga harus merogoh kocek lumayan dalam.</p>
<p>Sebuah SIM dihargai sekitar 10.000 kroner (setara dengan Rp 20 juta). Hal ini juga diamini warga lainnya, Hans, yang saat mendapatkan SIM harus membayar 1.500 Euro atau sekitar Rp 21 juta.</p>
<p>Melihat jejak perjalanan Kopenhagen dengan kisah persepedaannya, rasanya tak ada kalimat “too good to be true”&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (2)</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-2/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-2/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada data pasti berapa jumlah sepeda yang “wira-wiri” di jalanan Kota Kopenhagen setiap harinya. Namun, sebuah alat penghitung yang ada di Jalan Frederiksborg, kawasan Norreport, Kopenhagen, mungkin bisa menjadi acuan. Menurut seorang teman, kawasan ini merupakan kawasan strategis yang selalu dilintasi. Itulah salah satu alasan mengapa alat itu dipasang di kawasan ini.
Saya sempat melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada data pasti berapa jumlah sepeda yang “wira-wiri” di jalanan Kota Kopenhagen setiap harinya. Namun, sebuah alat penghitung yang ada di Jalan Frederiksborg, kawasan Norreport, Kopenhagen, mungkin bisa menjadi acuan. Menurut seorang teman, kawasan ini merupakan kawasan strategis yang selalu dilintasi. Itulah salah satu alasan mengapa alat itu dipasang di kawasan ini.<br />
Saya sempat melihat bagaimana alat tersebut bekerja. Alat itu ditempatkan di salah satu sisi jalan. Setiap satu sepeda melintas, maka angka yang ada di alat tersebut akan betambah dengan sendirinya. Ketika saya berada disana pukul 12.00, sepeda yang melintas sejak pergantian hari sudah lebih dari 2000 sepeda. Ini jumlah yang terbilang tak terlalu banyak, karena pada musim dingin jumlah pengendara sepeda biasanya memang menurun dan beralih menggunakan bus kota atau kereta api. Jika musim semi, jumlah pengendara sepeda bisa tiga kali lipat banyaknya. Bisa mencapai jutaan sepeda yang melintas. Berdasarkan data yang ada di alat penghitung itu, sejak 15 Juni 2009 hingga 13 Desember 2009 (pukul 12.00), pengguna sepeda yang melintas tercatat 2.195.497 orang.<br />
Meski infrastruktur sudah memadai, pemerintah Denmark masih terus berupaya menggenjot anggaran demi peningkatan fasilitas bersepeda. Tujuannya, meningkatkan jumlah pengguna sepeda dari hari ke hari. Untuk itu, pemerintah Denmark sudah merencanakan anggaran sebesar 2 miliar Kroner pada tahun 2010 untuk peningkatan tersebut. Peremajaan dan memperbaiki fasilitas diyakini akan mempersuasi warga memilih bersepeda. Rencana ini turut pula mendapatkan dukungan penuh dari Serikat Sepeda Denmark dan perusahaan layanan kereta api, DSB. Salah satu hal yang akan diperbaiki adalah lebih mempermudah pengguna sepeda yang akan mengkombinasi transportasinya dengan kereta api.<br />
Menteri Transportasi Denmark, Lars Barfoed mengatakan, tidak semua komuter bisa bersepeda langsung dari stasiun ke tempat kerja,  karena masih kesulitan membawa sepedanya ke atas kereta api. Padahal, tak sedikit juga warga yang sudah melakukannya, membawa naik sepedanya ke atas kereta api dan kembali melanjutkan bersepeda ke tempat tujuan.<br />
Bersepeda? Kami Suka!<br />
Nah, ini beberapa cerita dari sejumlah warga Kopenhagen yang sempat saya jumpai di sela perjalanan mengikuti KTT Perubahan Iklim awal Desember lalu. Mereka berbagi kisah tentang sepeda dan kesenangannya akan kendaraan tanpa bahan bakar itu. Signe, salah satunya. Ia menuturkan, pilihan bersepeda dilakukannya secara sadar. Tak ada paksaan, melainkan sudah menjadi sebuah kesenangan. Kebiasaan bersepeda, sudah dilakoninya sejak kanak-kanak. Kata Signe, hal itu sudah membudaya di tengah masyarakat Denmark. Ia sendiri, sebelumnya menjalani masa kecil di sebuah daerah pinggiran Kopenhagen.<br />
“Kampung halaman saya berjarak sekitar 2-3 jam dari Kopenhagen. Kalau di sana, Anda akan menjumpai orang lebih banyak lagi bersepeda, karena hanya kota kecil. Setiap orang di keluarga pasti punya sepeda sendiri. Bersepeda sudah menjadi budaya kami,” kata Signe saat dicegat ditengah perjalanannya menuju tempat bekerja.<br />
Sejak kecil hingga saat ini, Signe mengaku selalu mengendarai sepeda. “Saya tidak punya mobil, tapi saya punya empat sepeda di rumah,” kata Signe sambil tertawa.<br />
Selain karena alasan peduli lingkungan, wanita yang terlihat energik dengan perlengkapan bersepedanya ini mengaku, merasa lebih sehat.<br />
Bersepeda, menurutnya merupakan bagian dari berolahraga. “Jarak rumah ke tempat kerja hanya setengah jam jika saya tempuh dengan bersepeda. Bayangkan kalau saya naik kereta atau bus, atau bahkan kendaraan pribadi pasti terasa lebih capek karena hanya duduk. Kalau naik sepeda, seluruh anggota tubuh bergerak, lebih sehat tentunya,” ujarnya dengan semangat.<br />
Seorang mahasiswa, Karen juga punya kisah sendiri tentang sepedanya. Gadis manis ini menuturkan, sepeda pertama ia miliki kala berusia enam tahun. Dan sepeda itu masih tersimpan rapi di garasi rumahnya. Karen punya alasan sendiri mengapa masih menyimpannya hingga di usianya yang memasuki 18 tahun. “Bagi saya dan mungkin teman-teman yang lain, sepeda itu jadi bagian dari sejarah perjalanan hidup saya. Sepeda pertama saya hadiah ulang tahun dari orangtua dan masih saya simpan sampai sekarang. Banyak cerita yang saya buat dengan sepeda itu,” ujar Karen yang hingga kini masih memilih bersepeda dari rumah ke kampusnya.<br />
Sebanyak 7 buah sepeda pernah dimiliki Karen, dengan yang dikendarainya saat ini. Para warga Kopenhagen, dikatakan Karen, biasanya memiliki lebih dari 2 sepeda per orang. Di keluarganya sendiri, seluruhnya memiliki sepeda masing-masing. “Mobil disimpan saja di garasi. Tetapi, Anda juga harus berhati-hati karena angka kehilangan sepeda juga cukup tinggi kalau tidak hati-hati. Sepeda sangat berharga disini,” katanya.<br />
Beruntung, selama lebih dari 12 tahun memiliki berbagai macam sepeda, Karen tak pernah sekalipun kehilangan benda berharga itu. Nah, bagi warga yang tidak memiliki atau malas menbawa sepeda, di sejumlah tempat – biasanya tak jauh dari stasiun kereta api- tersedia tempat rental sepeda. Siapa saja bisa menyewanya dengan memberikan deposit sebesar 20 kroner (sekitar Rp40.000) dan bisa mendapatkan uang kembali setelah mengembalikan sepeda tersebut seusai digunakan. Asyik kan?<br />
Bagi yang ingin memiliki sepeda, tak susah menemukan berbagai toko sepeda di Kopenhagen. Modelnya pun unik-unik. Tinggal pilih dan sesuaikan dengan kondisi keuangan! Menariknya lagi, ada cara mudah mendapatkan sepeda dengan harga murah disana, yaitu membeli sepeda yang dilelang oleh polisi. Lho kok? Penasaran?<br />
(bersambung)</p>
<p>Author: KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary<br />
http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/24/06322632/Bersepeda.di.Negeri.Hans.Christian.Andersen.2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (1)</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-1/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-1/</guid>
		<description><![CDATA[Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (1)
KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Cerita Little Mermaid karangan Hans Christian Andersen telah menjadi ikon salah satu negara dari rumpun Skandinavia, Denmark. Kini, Denmark punya ikon dan cerita baru, yakni cerita tentang cykling (bersepeda) yang bisa dijumpai di segala penjuru kota. Cerita cykling kali ini hadir dari Kopenhagen sebagai pilihan bertransportasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bersepeda di Negeri Hans Christian Andersen (1)<br />
KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Cerita Little Mermaid karangan Hans Christian Andersen telah menjadi ikon salah satu negara dari rumpun Skandinavia, Denmark. Kini, Denmark punya ikon dan cerita baru, yakni cerita tentang cykling (bersepeda) yang bisa dijumpai di segala penjuru kota. Cerita cykling kali ini hadir dari Kopenhagen sebagai pilihan bertransportasi yang sudah membudaya di ibu kota negara berpenduduk sekitar 5 juta jiwa itu&#8230;.</p>
<p>Siapa saja yang pernah mengunjungi kota di Eropa pasti sudah biasa menemukan fenomena bersepeda sebagai salah satu pilihan transportasi yang sudah membudaya, termasuk di Kopenhagen, Denmark. Dalam sebuah penelitian tahun 2007, Kopenhagen masuk dalam jajaran 11 kota sepeda terbaik di dunia. Kota ini menduduki peringkat ketiga di bawah Amsterdam (Belanda) dan Portland, Oregon (Amerika Serikat).</p>
<p>Menurut seorang arsitek, Jan Gehl, Denmark memang mengalami perkembangan dan perubahan kultur yang sangat signifikan dalam berkendara. Keinginan pemerintah mengajak masyarakatnya beralih ke transportasi umum dan ramah lingkungan membuahkan hasil. Salah satu hal yang mendukung keberhasilan tersebut adalah kesiapan infrastruktur yang membuat masyarakat merasa aman dan nyaman.</p>
<p>Menilik sejarah persepedaan di Denmark, hal itu ternyata punya latar belakang cerita yang cukup menarik. Dari riset kecil-kecilan, saya menemukan informasi bahwa dalam 1,5 abad, budaya bersepeda di Denmark terus mengalami perkembangan dan semakin populer di kalangan masyarakat. Pada tahun 1890, ada sekitar 3.000 sepeda di Kopenhagen (www.cycling-embassy.dk). Jumlah ini meningkat pada tahun 1900 menjadi 30.000 sepeda. Tujuh tahun kemudian jumlah tersebut menjadi 80.000 dan terus meningkat hingga 400.000 sepeda di Kopenhagen pada tahun 1934.</p>
<p>Federasi Sepeda Denmark yang dibentuk pada tahun 1905 merupakan organisasi sepeda tertua di Eropa dengan tujuan utama membuat pengambil kebijakan memberikan kondisi yang lebih baik bagi para pengguna sepeda. Tidak sampai 5 tahun, sudah ada peraturan yang diperkenalkan di Kepolisian Kopenhagen. Pada tahun 1923, aturan mengenai Aturan Berkendara disetujui di parlemen. Pada tahun 1920 hingga 1930-an, sepeda dan trem mendominasi jalanan di sejumlah kota besar dan semakin berkembang. Pada saat yang bersamaan, sepeda menjadi semakin populer dan menjadi alat transportasi yang diminati.</p>
<p>Selama masa pendudukan Jerman atas Denmark pada tahun 1940-1945, terbatasnya ketersediaan bahan bakar membuat sepeda menjadi alat transportasi yang paling diandalkan. Hal ini terus berlanjut sampai pertengahan tahun 1950-an, ketika akhirnya pengguna mobil mengalami pertumbuhan pesat. Peningkatan penggunaan mobil membuat berkurangnya pengguna sepeda secara signifikan hingga pertengahan tahun 1970. Kendati pengguna sepeda berkurang, sepertiga dari orang dewasa pada masa itu masih bertahan menggunakan kendaraan tenaga angin tersebut secara teratur.</p>
<p>Krisis energi pada tahun 1970-an dan meningkatnya kepedulian pada lingkungan menjadi faktor utama adanya transformasi transportasi dari mobil ke sepeda dan transportasi publik. Hal itu didukung pula oleh adanya peningkatan fasilitas dan infrastruktur bagi para pengguna sepeda. Dari tahun 1982 hingga 2001, anggaran negara dialokasikan untuk mendanai pembangunan jalur dan infrastruktur sepeda bagi para penggunanya. Konsentrasi pendanaan untuk pos persepedaan ini mulai berkurang setelah tahun 2001.</p>
<p>Saat menyampaikan sambutan pada pembukaan konferensi perubahan iklim, 7 Desember 2009, Gubernur Kopenhagen Ritt Bjerregard memasukkan unsur “cykling” sebagai salah satu upaya pemerintahannya menekan emisi 20 persen seperti yang ditargetkan untuk rentang waktu 2005-2015. Mengajak warga bersepeda diyakini bisa mengurangi angka emisi dari sektor transportasi. Ritt menyebutkan, 50 persen warga Kopenhagen telah beralih menggunakan sepeda sebagai pilihan utama bertransportasi.</p>
<p>Bahkan, dalam pamflet promosi yang menyambut peserta COP15 disebutkan bahwa di antara empat warga Kopenhagen, hanya satu yang memiliki mobil. Apa yang diungkapkan Ritt langsung bisa dijumpai kala kita berkeliling Kota Kopenhagen. Tak hanya di jalanan, tetapi juga di dalam kereta api. Ia pun menargetkan, Kopenhagen menjadi ibu kota negara pertama yang berpredikat “Neutral Carbon City” pada tahun 2015.</p>
<p>Pengendara Sepeda bak “Raja”</p>
<p>Di jalanan Kopenhagen banyak dijumpai berbagai papan petunjuk bergambar sepeda. Entah itu menunjukkan jalur khusus sepeda, tempat parkir sepeda, tempat penitipan sepeda dan berbagai simbol lain yang memudahkan para pengguna sepeda. Berbagai kemudahan ini mungkin bisa menjadi pertanda bahwa para pengguna sepeda menjadi “raja” di kota ini. Di tengah jalanan yang berukuran cukup besar, di sisi kanan jalan masing-masing arah, terdapat jalur khusus sepeda. Di beberapa kawasan, jalur khusus sepeda dicat berwarna khusus. Seperti di kawasan Parliament Square, jalur khusus sepeda dicat berwarna biru. Di ujung jalan, biasanya dibuat gambar sepeda berukuran cukup besar. Maka, jangan takut disalip mobil kala bersepeda di kota ini.</p>
<p>Traffic light bagi pengguna sepeda juga dipisahkan dengan lampu lalu lintas bagi pengendara mobil dan bus. Ada traffic light khusus yang bergambar sepeda di lampu paling atas, kemudian diikuti lampu hijau, kuning, dan merah.</p>
<p>Parkir khusus sepeda juga merajai. Di setiap sisi jalan bagi pedestrian, pasti ada tempat parkir sepeda. Bisa dibilang, area parkir sepeda lebih penuh dibandingkan mobil yang parkir di pinggir jalan. Pemerintah setempat juga merancang berbagai macam kreasi parkir sepeda. Menarik untuk dicermati. Ada tempat khusus yang menjadi ruang bagi ban sepeda depan. Tujuannya agar sepeda terparkir dengan rapi dan menghindari sepeda berjatuhan jika tersenggol satu sama lain. Pemandangan deretan sepeda yang terparkir pun menjadi salah satu obyek yang khas dari Kopenhagen.</p>
<p>Bagi para pengguna yang mengayuh sepedanya hanya sampai di stasiun, tak masalah. Di setiap stasiun kereta api, kita akan menjumpai tempat menyimpan sepeda yang disusun bertingkat. Saya sendiri tak terbayang bagaimana menaikkan sepeda-sepeda itu atas dan menyusunnya secara rapi. Menurut informasi, penitipan sepeda itu gratis. Pastikan saja sepeda aman terkunci saat dititipkan.</p>
<p>Tempat penitipan juga ada dua macam. Ada yang di dalam dan di luar stasiun. Di luar stasiun, penitipan biasanya tepat di pelataran yang tak jauh di pintu keluar. Penitipan di dalam stasiun biasanya ada tanda gambar sepeda yang dipasang di bagian pintu besinya. Letak ruangan ini berbeda di setiap stasiunnya.</p>
<p>Sebagai gambaran, kereta api di Kopenhagen, khususnya S-Tog, terdapat di bawah tanah sehingga stasiun selalu terdiri dari beberapa lantai. Ruang penyimpanan sepeda terdapat di lantai dua atau tiga. Namun jangan khawatir mencari cara untuk membawanya ke lantai atas. Di tangga pun tersedia jalur khusus yang memudahkan pemilik membawa atau menenteng sepeda. Tak sedikit pula yang terlihat santai membawa sepedanya naik dengan menggunakan eskalator.</p>
<p>Tak sedikit pula yang membawa sepedanya naik ke atas kereta api. Jangan salah, di dalam kereta api pun ada barisan kursi yang disediakan khusus untuk “memarkir” sepeda. Biasanya, di bagian bawah kursi ada semacam bahan dari karet yang dibuat berjarak hingga cukup untuk memasukkan ban sepeda dan tak menyebabkannya jatuh karena goncangan sepanjang jalan. Sang pemilik? Mereka bisa santai membaca buku hingga kereta mengantarkan ke stasiun tujuan, kemudian turun, menenteng sepeda, dan gowes lagi!</p>
<p>Nah, ada banyak cerita menarik beberapa warga Kopenhagen tentang pilihannya menggunakan sepeda&#8230;.<br />
(bersambung)</p>
<p>Author: KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary<br />
http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/24/06120319/Bersepeda.di.Negeri.Hans.Christian.Andersen.1</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/bersepeda-di-negeri-hans-christian-andersen-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kopenhagen, dari Kota Berpolusi ke &#8220;Neutral Carbon City&#8221; (2)</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/kopenhagen-dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-2/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/kopenhagen-dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/kopenhagen-dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-2/</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada yang bisa membantah bahwa keinginan pemerintah Denmark menjadikan negaranya sebagai carbon neutral country pada tahun 2050 bukan sekadar visi. Begitu pula pemerintah kota Kopenhagen, dengan targetnya menjadikan Kopenhagen sebagai ibu kota negara pertama dengan tingkat karbon netral pada tahun 2025. Sistem yang dibangun dengan mapan menjadi jalan mewujudkan impian itu. Dan semuanya telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak ada yang bisa membantah bahwa keinginan pemerintah Denmark menjadikan negaranya sebagai carbon neutral country pada tahun 2050 bukan sekadar visi. Begitu pula pemerintah kota Kopenhagen, dengan targetnya menjadikan Kopenhagen sebagai ibu kota negara pertama dengan tingkat karbon netral pada tahun 2025. Sistem yang dibangun dengan mapan menjadi jalan mewujudkan impian itu. Dan semuanya telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir.</p>
<p>Saya dan Goris, climate champions dari Indonesia, sempat mengikuti energy tour yang merupakan rangkaian kegiatan COP15. Dua bukti keseriusan pemerintah Denmark yang sempat disaksikan langsung adalah penerapan teknologi tinggi dalam pengelolaan sampah menjadi energi. Tak hanya itu, Denmark juga telah memulai pilot project-nya untuk membangun gedung dan rumah yang ramah lingkungan dengan menggunakan solar panel dan ventilasi yang dirancang khusus bagi kawasan yang menikmati musim dingin dan musim panas. Ini sekelumit cerita dari tur dua jam yang menjadi bagian dari pembuktian pemerintah Denmark tentang mimpinya.</p>
<p><strong>Mengolah sampah menjadi energi</strong><br />
Sebelumnya tak pernah terbayangkan bahwa sampah bisa diolah menjadi energi. Sekitar 30 peserta COP15 beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tur ke lokasi pengelolaan sampah di Denmark di bawah perusahaan Amagerforbraending. Perusahaan ini memang berspesialisasi dalam hal pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Sampah-sampah di Kopenhagen diproses menjadi green energy.</p>
<p>Pengolahan sampah ditransformasikan menjadi tenaga listrik yang ramah lingkungan dan district heating. Kapasitas sampah yang bisa ditampung untuk diolah mencapai 440.000 ton per tahunnya. Energi dari pengolahan sampah ini terutama memproduksi CO2-netral energi, yang sebagian besar sampah terdiri dari material organik. Totalnya, mencapai 25 persen dari penggunaan di district heating di seluruh Kopenhagen atau setara dengan mengaliri listrik 70.000 rumah tangga.</p>
<p>Dari keseluruhan sampah di Kopenhagen, sebanyak 50 persen berasal dari sampah rumah tangga, pusat daur ulang 7 persen dan sampah industri 42 persen, serta lainnya 1 persen.</p>
<p>Proses kerja pengolahan sampah ini berlangsung dalam 7 tahap. Secara singkatnya, ada pemisahan antara sampah organik dan non-organik. Kemudian sampah-sampah dipanaskan dan selanjutnya akan diolah menjadi sumber energi melalui sejumlah proses yang diterangkan secara singkat oleh para ahli di Amagerforbranding. Dengan pengolahan limbah sampah seperti ini diyakini dapat mengurani emisi di atmosfer dan efisiensi energi akan memberikan keuntungan besar bagi lingkungan.</p>
<p><strong>Gedung dan rumah ramah lingkungan</strong><br />
Selain mengupayakan pengolahan limbah sampah yang ramah lingkungan, pemerintah Denmark bekerja sama dengan sejumlah universitas dan para ahli dari perusahaan arsitek juga merancang gedung dan rumah yang ramah lingkungan. Mereka menyebutnya sebagai neutral carbon building dan neutral carbon houses. Gedung pertama dibangun di Fakultas Sains, Universitas Kopenhagen, yang diperuntukkan bagi dekan, profesor, dan mahasiswa. Gedung yang berbentuk minimalis dan dicat hijau ini didesain oleh Christensen and Co Architects A/S. Gedung ini dibangun dengan banyak kaca sehingga untuk cahaya pada siang hari mengandalkan sinar matahari. Tak hanya itu, pembangunan gedung ini juga menekankan pada banyaknya ventilasi.</p>
<p>Gedung yang juga sering disebut sebagai green light house ini mulai dibangun pada Oktober 2008 dan selesaipembangunannya pada Oktober 2009. Kesempatan menjadi tuan rumah COP 15 tak disia-siakan pemerintah Denmark untuk menyosialisasikan konsep yang tengah dikembangkannya. Ke depannya, proyek yang sama akan dilakukan di sejumlah negara. di antaranya Inggris, Jerman, Amerik,a dan Perancis. Salah satu ahli, Michael Rasmussen, mengatakan, tiga titik poin dari konsep ini adalah energo, indoor climate, dan lingkungan. “Kesemuanya ini harus nyaman dan menyehatkan,” ujarnya.</p>
<p>Dijelaskan, dalam konsep ini cahaya digunakan sebagai energi aktif. Gedung ini memiliki fungsi sebagai cahaya kapan saja dan dalam keadaan cuaca apa saja dan mentransformasikan cahaya dari luar ke dalam melalui jendela dan atap yang transparan dari kaca. Terdapat pula sensor yang akan mengatur cahaya. Seluruh energi digerakkan dengan solar dan sinar matahari.</p>
<p>Untuk rumahnya, pilot project dilaksanakan di kawasan utara Kopenhagen. Terdapat dua rumah yang akan dijadikan contoh. Rumah tersebut terdiri dari dua lantai dengan kamar tidur di lantai satu yang saling berhadapan. Secara konsep, rumah ramah lingkungan ini hampir sama dengan gedung. Namun, rumah didesain untuk keluarga dan individu. Rasmussen mengatakan, pemerintah Denmark berharap konsep rumah dan gedung ini bisa ditiru oleh berbagai negara.</p>
<p>“Ini konsep rumah yang aktif, di mana dia bisa bekerja sendiri menyesuaikan  dengan lingkungannya. Kalau panas rumah ini akan menyejukkan, kalau dingin rumah ini akan menghangatkan,” kata dia.<br />
Ya, mimpi Denmark, khususnya Kopenhagen menjadi kota dengan tingkat karbon netral pada tahun 2025 bukan sesuatu yang mustahil akan tercapai. Kuncinya, kerja sama dan dukungan dari berbagai sektor yang ada.</p>
<p>Author: KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary</p>
<p>Original link :<br />
http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/16/09030144/Kopenhagen..dari.Kota.Berpolusi.ke.Neutral.Carbon.City.2</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/kopenhagen-dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Kota Berpolusi ke Neutral Carbon City (bagian 1)</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-bagian-1/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 01:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[Rekan bloggers, mulai entri ini sampai 5 entri selanjutnya, kami akan memuat jurnal Inggried Sri Wedhaswary (wartawan Kompas.com) yang bulan Desember lalu kami kirim ke Kopenhagen, bersama Goris Mustaqim, untuk menjadi perwakilan anak muda Indonesia dalam Copenhagen COP 15. 
 Tulisannya sangat menarik untuk dibaca! Selamat mengikuti&#8230; 
“Welcome to Climate Neutral Country”. Rangkaian kata-kata ini menyambut para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Rekan bloggers, mulai entri ini sampai 5 entri selanjutnya, kami akan memuat jurnal Inggried Sri Wedhaswary (wartawan Kompas.com) yang bulan Desember lalu kami kirim ke Kopenhagen, bersama Goris Mustaqim, untuk menjadi perwakilan anak muda Indonesia dalam Copenhagen COP 15. </em></p>
<p><em> Tulisannya sangat menarik untuk dibaca! Selamat mengikuti&#8230; </em></p>
<p>“Welcome to Climate Neutral Country”. Rangkaian kata-kata ini menyambut para penumpang kereta api yang tiba di Central Station Kobenhavn, Kopenhagen, Denmark, sehari menjelang pelaksanaan Konferensi PBB mengenai perubahan iklim, pekan lalu.</p>
<p>Kesempatan menjadi tuan rumah event terbesar PBB tahun ini tak disia-siakan oleh Pemerintah Denmark. Visi menjadi “Neutral Carbon Country” terus didengungkan. Bahkan, Gubernur Kopenhagen Ritt Bjerregaard dengan optimistis menyebutkan, Kopenhagen akan menjadi ibu kota negara pertama dengan tingkat karbon netral pada 2025.</p>
<p>Ritt menambahkan, para peserta COP-15 akan melihat bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan mimpi itu. Denmark sendiri menargetkan menjadi negara netral karbon pada 2050. Lalu, apa upaya yang bisa dijumpai di kota ini?</p>
<p>Transformasi transportasi</p>
<p>Soal transportasi mungkin bisa jadi satu contoh upaya serius Pemerintah Denmark menekan emisi karbon yang berasal dari kendaraan. Warga setempat lebih dari separuhnya menggunakan moda transportasi umum dan sepeda. Hanya sebagian yang dijumpai menggunakan kendaraan pribadi, seperi mobil dan motor. Bahkan, selama seminggu berada di kota pelabuhan ini, saya hanya sekali menemukan seorang pria yang mengendarai motor.</p>
<p>Menurut seorang arsitek, Jan Gehl, pendiri Gehl Architect, 40 tahun lalu, Kopenhagen merupakan kota yang sangat padat dan penuh polusi kendaraan bermotor. “Sangat ruwet, polusi, serta padat dengan motor dan mobil. Pembelian kendaraan di kota ini mencapai 2 juta unit setiap tahunnya dan jalan menjadi semakin kecil, terutama untuk para pejalan kaki,” kata Geh saat berbicara pada panel The World Culture-Future sebagai bagian dari side event COP-15 di Kopenhagen, Denmark.</p>
<p>Dikatakannya, transformasi ini salah satunya terjadi karena perubahan kultur masyarakat. Hal ini menjadi faktor penting perubahan Kopenhagen menjadi kota yang tertata, tertib, dan disiplin seperti saat ini. Apakah harus bermula dari perubahan kultur? “Jawabannya sederhana. Jika Anda membeli banyak mobil, Anda akan mendapatkan mobil. Jika Anda membeli banyak sepeda, Anda mendapatkan sepeda. Seperti yang saya lihat dalam 15 tahun, kultur modern mengubah pola pikir masyarakat.</p>
<p>Pada saat yang sama, masyarakat diajak untuk berperan aktif melakukan perubahan besar. Dalam hal ini, menurut Gehl, pendidikan menjadi faktor penting untuk mewujudkan visi Kopenhagen yang ramah lingkungan “Secara bertahap, kota (Kopenhagen) berhasil untuk bergerak maju ke tempat seperti sekarang ini daripada sekian tahun lalu. Sekarang bahkan ada royalti dan penghargaan bagi para pengguna sepeda,” ujarnya.<br />
Seorang warga Kopenhagen yang dijumpai Kompas.com, Larssen (40), mengakui, seiring perjalanan waktu, jumlah pengguna sepeda dan angkutan umum di kotanya semakin bertambah. Ia juga melakukan hal yang sama. Menenteng sepedanya ke atas kereta api dan melanjutkan bike to work. Kebiasaan menggunakan sepeda sudah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.</p>
<p>Satu hal yang perlu menjadi catatan penting, mentransformasikan kultur masyarakat dalam bertransportasi juga menjadi efektif jika didukung dengan infrastruktur yang memadai. Jika diperhatikan, Pemerintah Denmark, khususnya Kopenhagen, sudah menyediakan infrastruktur yang luar biasa matang sehingga memberikan kenyamanan bagi masyarakat, apa pun moda transportasi yang digunakannya.</p>
<p>Sekretaris Jenderal International Association of Public Transport (UITP) Hans Rat mengatakan, kenyamanan pelayanan transportasi umum tak hanya terletak pada pembangunan fisik. “Masyarakat juga akan merasa nyaman jika disuguhkan dengan informasi yang memudahkan, misalnya jadwal, rute, dan tarif. Kenyamanan tak hanya terletak di fisik,” Kata Hans kepada Kompas.com dalam perjalanan KA Climate Express Brussels-Kopenhagen beberapa waktu lalu.</p>
<p>Merujuk pada pengalaman bertransportasi di Kopenhagen, unsur kenyamanan fisik dan informasi rasanya sudah terpenuhi. Di setiap area publik, tersedia maket ataupun buku saku yang akan memberikan petunjuk bagi siapa pun yang akan bepergian di negeri Hans Christian Andersen ini. Jadwal serta rute kereta api dan bus kota tertera di setiap titik tak jauh dari lampu lalu lintas atau tempat perhentian bus. Demikian pula di stasiun. Calon penumpang bisa melihat semua uruh rute dan titik penghentian kereta sehingga mudah dipahami. Tak perlu takut nyasar, apalagi tersesat.</p>
<p>Dukungan kebijakan pemerintah juga sangat dibutuhkan. Asal tahu saja, harga mobil di Denmark bisa dibilang “selangit”. Beberapa warga yang saya jumpai mengaku hanya mengandalkan sepeda dan moda transportasi umum, seperti kereta api dan bus kota. Dengan jujur mereka mengakui tak memiliki mobil di rumahnya. Selain alasan harga mobil yang mahal, untuk mendapatkan lisensi mengemudi juga mengeluarkan kocek yang tak sedikit. Karen dan Seigne, dua warga Kopenhagen, menyebutkan, untuk mendapatkan lisensi mengemudi dikenakan biaya antara 20.000 dan 50.000 kroner atau setara dengan Rp 40 juta-Rp 100 juta!</p>
<p>Semua upaya terpadu ini tentunya sejalan dengan misi besar pemerintah untuk mewujudkan Kopenhagen sebagai kota netral karbon. Upaya ini tak hanya disektor transportasi. Di berbagai sektor, seperti pengolahan sampah dan pembangunan gedung ramah lingkungan, juga tengah digalakkan. Seperti konsep yang tengah dirintis Denmark dalam hal properti dan pengelolaan sampah.</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<p>Author: KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary</p>
<p>original link: http://www.kompas.com/lipsus112009/gjread/2009/12/15/0814263/Kopenhagen..dari.Kota.Berpolusi.ke.Neutral.Carbon.City.1</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/dari-kota-berpolusi-ke-neutral-carbon-city-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suara Anda untuk Bumi Kita</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/suara-anda-untuk-bumi-kita/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/suara-anda-untuk-bumi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 07:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/suara-anda-untuk-bumi-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Rekan blogger,
Bulan Desember nanti kami akan mengirimkan dua orang perwakilan program British Council untuk berangkat ke Copenhagen - Denmark, untuk berpartisipasi dalam Copenhagen COP 15.
Mereka adalah Goris Mustaqim dan Inggried Wedhaswary. Goris merupakan climate champion kami yang sudah terlibat dalam berbagai proyek British Council di bidang lingkungan sejak tahun 2007; sementara Inggried adalah jurnalis Kompas.com [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan blogger,</p>
<p>Bulan Desember nanti kami akan mengirimkan dua orang perwakilan program British Council untuk berangkat ke Copenhagen - Denmark, untuk berpartisipasi dalam <a target="_blank" href="http://en.cop15.dk/">Copenhagen COP 15</a>.</p>
<p>Mereka adalah Goris Mustaqim dan Inggried Wedhaswary. Goris merupakan climate champion kami yang sudah terlibat dalam berbagai proyek British Council di bidang lingkungan sejak tahun 2007; sementara Inggried adalah jurnalis Kompas.com yang memiliki <em>passion</em> kuat terkait isu <em>climate change</em>.</p>
<p>Silahkan rekan blogger baca biografi pendek mereka di website British Council di halaman <a target="_blank" href="http://www.britishcouncil.org/indonesia-climate-green-journey.htm">Road To Copenhagen </a></p>
<p>Sebagai bagian dari partisipasi kita untuk COP 15 ini, kami ingin mengundang rekan blogger semua untuk bisa menyuarakan gagasan, ide, pemikiran, komentar atau apapun yang terkait dengan semangat kita menyelamatkan bumi ini.</p>
<p>Apa syaratnya? mudah koq, yaitu:</p>
<ol>
<li>Gagasan harus original atau hasil pemikiran sendiri</li>
<li>gagasan bisa disampaikan melalui discussion page di facebook group &#8216;British Council Indonesia&#8217; ataupun di kolom Green Journey <a href="http://www.kompas.com/">www.kompas.com</a></li>
<li>gagasan tidak lebih dari 50 kata</li>
<li>posting gagasan harus dilakukan sebelum tanggal 24 November 2009 pukul 00.00 WIB.</li>
</ol>
<p>Ada hadiah menariknya lho! Kami menyediakan 3 Ipod Nano Chromatic buat tiga pemberi gagasan terbaik.</p>
<p>So, tunggu apa lagi? <img src='http://britishcouncil.or.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/suara-anda-untuk-bumi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Are you passionate about changing the world? Join the Mosaic International Summit 2010</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/are-you-passionate-about-changing-the-world-join-the-mosaic-international-summit-2010/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/are-you-passionate-about-changing-the-world-join-the-mosaic-international-summit-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/are-you-passionate-about-changing-the-world-join-the-mosaic-international-summit-2010/</guid>
		<description><![CDATA[The Mosaic International Summit 2010 will bring together 80 young Muslims who aspire to be leaders of change.
Mosaic works towards a more integrated and thriving society where all individuals, regardless of background, are supported in realising their potential.  Mosaic is based in the UK and was founded by HRH The Prince of Wales in 2007. 
The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Mosaic International Summit 2010 will bring together 80 young Muslims who aspire to be leaders of change.</p>
<p>Mosaic works towards a more integrated and thriving society where all individuals, regardless of background, are supported in realising their potential.  Mosaic is based in the UK and was founded by HRH The Prince of Wales in 2007. </p>
<p>The Mosaic International Summit 2010 will offer 80 young Muslims an exciting leadership development opportunity.  The Summit aims for delegates:</p>
<ol>
<li>to develop leadership ability and an aspiration to be an agent of change</li>
<li>to develop understanding of key global issues and inspire positive thinking to address them</li>
</ol>
<p>The Summit will take place in the UK between <strong>11 – 24 July 2010</strong>.  The Summit has been developed from our first international gathering of young Muslim leaders – the very successful Mosaic International Summer School 2009.  Here are some comments from 2009 delegates:</p>
<p><em>“For me personally, the program has benefitted me more than I expected.  It gives me more confidence, insights and inspiration to affect positive change.  It has made me think of the role youth and religion can play in problems like poverty, unemployment and environment”.</em></p>
<p><em>“We wait for others to be leaders when we should be the ones to take up initiative….you have to take responsibility and think and also act like a leader”.</em></p>
<p><em>“….a life changing experience…I feel that I have changed internally as a person.  I feel empowered, I feel connected, I feel that I am not alone…..”</em></p>
<p> Applications for the Mosaic International Summit 2010 are open between 30 October and 27 November 2009.   For information about eligibility and all other details please go to the <a target="_blank" href="http://www.mosaicnetwork.co.uk/international/international_summit/">Mosaic website</a>.</p>
<p> <em>note: British Council is not the main organiser of this Summit. Please address all questions about it to </em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: Arial"><a href="mailto:victoria.bishop@bitc.org.uk"><strong>victoria.bishop@bitc.org.uk</strong></a></span></p>
<p>Regards,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/are-you-passionate-about-changing-the-world-join-the-mosaic-international-summit-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemenang..!</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/sang-pemenang-2/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/sang-pemenang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 01:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/sang-pemenang-2/</guid>
		<description><![CDATA[Rekan blogger,
Hari Sabtu, 7 November 2009, lalu kami telah mengumumkan 3 blogger pemenang lomba blog Education UK. Dan mereka adalah:
Pemenang I     : Riya Wati
Pemenang II   : Wahyu Aditya
Pemenang III  : Ahmad Fauzi Ridwan
Selamat kepada ketiga pemenang! dan Selamat juga kepada semua yang terlibat dalam kompetisi blog kali ini. Semoga kita bisa bekerjasama kembali untuk kompetisi blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan blogger,</p>
<p>Hari Sabtu, 7 November 2009, lalu kami telah mengumumkan 3 blogger pemenang lomba blog Education UK. Dan mereka adalah:</p>
<p>Pemenang I     : <a target="_blank" href="http://sulthanah.multiply.com/journal/item/282/THE_CHRONICLES_OF_NARNIA_THE_LORD_OF_THE_RINGS_HINGGA_HARRY_POTTER">Riya Wati</a></p>
<p>Pemenang II   : <a target="_blank" href="http://menteridesainindonesia.blogspot.com/2009/09/alasan-saya-pingin-belajar-ke-inggris.html">Wahyu Aditya</a></p>
<p>Pemenang III  : <a target="_blank" href="http://ridu.web.id/2009/10/25/3-sekawan-di-negeri-kerajaan">Ahmad Fauzi Ridwan</a></p>
<p>Selamat kepada ketiga pemenang! dan Selamat juga kepada semua yang terlibat dalam kompetisi blog kali ini. Semoga kita bisa bekerjasama kembali untuk kompetisi blog selanjutnya (jika ada <img src='http://britishcouncil.or.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/sang-pemenang-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ini dia sang 10 besar..</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/ini-dia-sang-10-besar/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/ini-dia-sang-10-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 08:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/ini-dia-sang-10-besar/</guid>
		<description><![CDATA[Rekan Bloggers,
Proses penjurian telah selesai, kami dari British Council telah merekapitulasi jumlah nilai dari masing-masing juri. Dan dari hasil rekapitulasi tersebut, kami berhasil mendapatkan 10 nama yang masuk ke jajaran top ten.
Berikut nama-namanya dan kami susun berdasarkan urutan abjad.
Ahmad Fauzi Ridwan , Deffarmen Mehan , Dwi Rahardiani , Ivan Ronaldo , Lasingtyas Eka , Metha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan Bloggers,</p>
<p>Proses penjurian telah selesai, kami dari British Council telah merekapitulasi jumlah nilai dari masing-masing juri. Dan dari hasil rekapitulasi tersebut, kami berhasil mendapatkan 10 nama yang masuk ke jajaran top ten.</p>
<p>Berikut nama-namanya dan kami susun berdasarkan urutan abjad.</p>
<p><a href="http://ridu.web.id/2009/10/25/3-sekawan-di-negeri-kerajaan/">Ahmad Fauzi Ridwan</a> , <a target="_blank" href="http://balebegol.blogspot.com/2009/10/hey-this-is-uk.html">Deffarmen Mehan</a> , <a target="_blank" href="http://increduyble.wordpress.com/2009/10/24/continuing-the-legacy-of-peter-rabbit/">Dwi Rahardiani</a> , <a target="_blank" href="http://belajadiukyakinkah.blogspot.com/2009/10/studi-di-uk-kenapa.html">Ivan Ronaldo</a> , <a target="_blank" href="http://www.syalalla.com/2009/10/british-obsessive.html">Lasingtyas Eka</a> , <a target="_blank" href="http://desainmethod.blogspot.com/2009/10/uk_23.html">Metha Paramitha</a> , <a target="_blank" href="http://kenapaharusliat.multiply.com/journal/item/52">Nur Aprilia</a> , <a target="_blank" href="http://pianita.blogspot.com/2009/10/inggrisyakinbanget.html/ ">Pipit Pianita</a> , <a target="_blank" href="http://sulthanah.multiply.com/journal/item/282/THE_CHRONICLES_OF_NARNIA_THE_LORD_OF_THE_RINGS_HINGGA_HARRY_POTTER">Riya Wati</a> , <a target="_blank" href="http://menteridesainindonesia.blogspot.com/2009/09/alasan-saya-pingin-belajar-ke-inggris.html">Wahyu Aditya</a></p>
<p>Selamat kepada 10 blogger yang namanya disebut di atas <img src='http://britishcouncil.or.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> !!</p>
<p>Pengumuman pemenang akan dilakukan pada saat pembukaan Pameran Pendidikan Inggris 2009, pukul 13.00 WIB di Ballroom 1 Ritz Carlton Pacific Place Hotel - Jl. Jend. Sudirman - Jakarta.</p>
<p>Oleh karenanya rekan blogger yang namanya masuk 10 besar kami minta dengan sangat untuk hadir ke acara ini. Rekan blogger lain yang sudah berpartisipasi dalam kompetisi ini juga kami undang untuk menyaksikan langsung pengumuman pemenang kompetisi blog ini, sekaligus juga untuk melihat pameran pendidikan Inggris 2009.</p>
<p>Dan jika ternyata rekan blogger tertarik untuk melanjutkan pendidikan di Inggris, maka dalam acara ini rekan sekalian bisa berkonsultasi dengan 14 perwakilan universitas Inggris langsung, sekaligus konseling gratis tentunya!</p>
<p>Atau mungkin tertarik info beasiswa S2 ke Inggris? Di sana informasinya juga ada.</p>
<p>Kami tunggu kedatangannya&#8230;</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/ini-dia-sang-10-besar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan ke Education UK Exhibition 2009</title>
		<link>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/undangan-ke-education-uk-exhibition-2009/</link>
		<comments>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/undangan-ke-education-uk-exhibition-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 10:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/undangan-ke-education-uk-exhibition-2009/</guid>
		<description><![CDATA[Rekan bloggers,
Kami ingin mengundang rekan bloggers semua (khususnya yang tinggal di kawasan Jakarta dan sekitarnya) untuk datang ke acara pembukaan Pameran Pendidikan Inggris 2009, yang akan diselenggarakan pada:
Hari           : Sabtu
Tanggal     : 7 November 2009
Jam           : 13.00 - 18.00
Tempat     : Ballroom 1 Ritz Carlton the Pacific Place Hotel, Jl. Jend. Sudirman Jakarta
Selain pameran, di sana juga kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan bloggers,</p>
<p>Kami ingin mengundang rekan bloggers semua (khususnya yang tinggal di kawasan Jakarta dan sekitarnya) untuk datang ke acara pembukaan Pameran Pendidikan Inggris 2009, yang akan diselenggarakan pada:</p>
<p>Hari           : Sabtu<br />
Tanggal     : 7 November 2009<br />
Jam           : 13.00 - 18.00<br />
Tempat     : Ballroom 1 Ritz Carlton the Pacific Place Hotel, Jl. Jend. Sudirman Jakarta</p>
<p>Selain pameran, di sana juga kami akan mengumumkan ketiga pemenang Kompetisi Blog Education UK yang tengah rekan bloggers ikuti, tepat pukul 13.00 WIB.</p>
<p><strong>Sehubungan dengan itu, pada tanggal 5 atau 6 November, kami akan umumkan 10 besar kompetisi ini via blog ini.</strong> Jadi mohon cek apakah nama rekan blogger masuk ke dalam 10 besar tersebut atau tidak. Nah, baru pada tanggal 7 November nantilah pemenangnya akan diumumkan langsung dari tempat pameran.</p>
<p>Dengan datang ke acara ini, rekan bloggers semua, baik yang namanya masuk ke 10 besar maupun yang tidak, bisa menyaksikan penyerahan hadiah langsung di sana sekaligus kopi darat dengan blogger lainnya <img src='http://britishcouncil.or.id/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sekian dulu informasi dari kami. Berita mutakhir apapun terkait dengan kompetisi ini akan selalu kami posting via blog kita ini.</p>
<p>Terima kasih dan salam&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://britishcouncil.or.id/blog/news/admin/undangan-ke-education-uk-exhibition-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
						
