International Young Creative Entrepreneur Design Award Night 2009


Seniman. Pengusaha. Penyelamat Bumi. Aktivis sosial.

Sepuluh tahun yang lalu, hal-hal tersebut berdiri sendiri-sendiri.

Hari ini, keempat hal itu menghubungkan dimensi seorang wirausahawan kreatif.

Bergabunglah di acara IYCE Award 2009 Innovation Nights yang kami selenggarakan. Anda bisa bertemu dengan arsitek, pengrajin, dan desainer yang akan mentransformasi ekonomi Indonesia di masa depan.Pelajari tentang bagaimana mereka menciptakan bisnis yang mendulang sukses. Caritahu bagaimana kreativitas mereka menciptakan lapangan kerja bagi komunitas mereka, sembari menjaga agar planet kita tetap aman. Gali inspirasi dari generasi baru para pembuat perubahan.

Acara-acara yang diselenggarakan:

4 Agustus: Dari industri kreatif menjadi kota kreatif
Ridwan Kamil, pemenang IYCE Design Winner 2006 dan pemimpin Urbane, gerakan mentransformasi Bandung dan kota-kota lain di Asia Pasifik menjadi kota-kota kreatif

5 Agustus: Hidup, Perbatasan, Keseimbangan: kerajinan baru Magno
Singgih Kartono, desainer, tentang pengalamannya ‘kembali ke desa’ untuk menciptakan radio kayu Magno, yang memenangkan berbagai penghargaan, menghidupkan kembali ekonomi pedesaan, dan memulai gerakan ‘hijau’.

6 Agustus: Pengumuman Pemenang IYCE Design Award 2009
Menampilkan 10 finalis IYCE Design. Cari tahu siapakah yang akan mewakili Indonesia di kompetisi internasioonal 100% Design London, Bulan September mendatang.Ketiga acara dimulai pada jam 18.30 WIB di Rasuna Marketing Office. Nikmati pameran karya 10 finalis IYCE Design Award sampai 11 Agustus, dari jam 10.00 sampai jam 19.00 WIB.Terbatas untuk 50 orang per sesi.

Untuk reservasi:
winda.wastu@britishcouncil.or.id atau +6281288964889


News 2 Comments

Sepuluh Finalis IYCE Design Awards 2009 Telah Terpilih


Dalam penyelenggaraan International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang selalu berhasil memperoleh penghargaan setiap tahunnya. Indonesia berhasil memenangkan keempat penghargaan tersebut dengan diwakili oleh Yoris Sebastian (Music 2006), Wahyu Aditya (Screen 2007), Sakti Parentean (Screen 2008) dan Oscar Lawalata (Fashion 2009). Tahun ini, Indonesia kembali berpartisipasi dalam kategori Desain.

Setelah melalui proses seleksi yang relatif ketat, akhirnya terpilih sepuluh finalis dari Indonesia yang akan diundang ke Jakarta pada tanggal 4 – 6 Agustus 2009 mendatang untuk mengikuti proses penjurian. Kesepuluh finalis tersebut berasal dari kota dan latar belakang yang berbeda, termasuk desain produk – terutama mebel, desain interior dan arsitektur.

Kota Bandung, yang sedang mengalami pengembangan di bidang industri kreatif, membuktikan eksistensinya dengan terpilihnya empat finalis. Keempat finalis tersebut antara lain adalah Calvin Hadiardja, brand manager sekaligus direktur pemasaran dari Label Ink, yang memproduksi agenda, buku sketsa, kartu ucapan, dan lain-lain. Kemudian ada Fauzy Prasetya, salah satu pendiri dari Kandura Keramik. Belakangan, Kandura sempat mendesain replika lantai keramik untuk proyek konservasi Museum Bank Indonesia. Kandura juga berkolaborasi dengan masyarakat di kawasan Kiara Cindong, yang terampil berkat didikan generasi-generasi sebelumnya. Dua finalis asal Bandung lainnya, Henry Gunawan dan Nelly Lolita Daniel sama-sama berkarya di bidang arsitektur. Henry yang pernah bekerja di Robert A. M. Stern Architects merupakan pendiri dari HGT Architects, sementara Nelly adalah direktur LABO Architecture and Design. Baru-baru ini, Nelly mendapatkan Special Mention at the International Architecture and Urban Design Competition.

Sementara itu, Jakarta berhasil menempatkan dua perwakilan di jajaran sepuluh finalis ini. Mereka adalah Alvin Tjitrowirjo dan Johansen Samsoedin. Alvin adalah otak dan mesin dibalik alvinT, label desain produk kontemporer, sekaligus menjadi salah satu penerima penghargaan di the Melbourne Design Festival. Johansen adalah satu dari tiga arsitek utama di Aboday Design, yang mendesain sekolah untuk anak yatim-piatu sebagai bagian dari proyek corporate social responsibility mereka.

Selain keenam finalis tersebut, masih ada beberapa finalis yang tidak kalah brilian dari kota-kota lainnya. Didi Diarsa dari Depok misalnya, yang secara inovatif menggunakan limbah pinus asal Eropa untuk memproduksi mebel yang dihasilkan di bawah label Furniture Aktif. Hal ini membuat mebel yang diproduksinya ramah lingkungan, termasuk meja dan kursi yang dibuatnya untuk mendukung proses belajar mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Dedikasinya terhadap dunia pendidikan membawa Didi menjadi salah satu finalis di Asia Europe Classroom Award di tahun 2004. Selain Didi, Satya Brahmantya dari Yogyakarta juga mendesain peralatan rumah tangga dan mebel. Satya pun menggunakan material hasil daur ulang untuk di bawah bendera PT. Lunar Mulia Kreasi.

Sementara itu, Handry Limorvell asal Tangerang membawahi Morvell Group of Companies, yang mengembangkan materi termoplastik untuk peralatan otomotif, peralatan rumah tangga, makanan dan minuman, serta produk edukatif untuk pasar Asia Tenggara. Tidak jauh berbeda dengan dari para finalis di atas, Happy Astidiana Paramitasari asal Surabaya juga bergerak di bidang produksi mebel. Bedanya, Happy dan perusahaannya, CV. Citramedia & Partners, menawarkan jasa konsultasi di bidang tersebut, dan juga di bidang desain produk dan kerajinan tangan secara keseluruhan untuk usaha kecil menengah. Baru-baru ini, perusahaan Happy memulai program daur ulang berbasis pengembangan komunitas bernama DESIGN-TRASH.

Setelah melalui proses penjurian di Jakarta selama tiga hari, akan dipilih satu jawara desain baru yang kemudian akan kami kirim ke Inggris untuk mengikuti kompetisi lanjutan tingkat global bersaing dengan finalis dari 9 negara lain. Di sana mereka akan bertemu dengan orang-orang ternama sektor desain dari Inggris, menghadiri festival-festival desain, membangun jaringan dan berkompetisi untuk memenangkan hadiah sebesar £5000.


News No Comments